Warga Labuhanbatu Masih Minati Perahu Getek UntukTransportasi Penyeberangan

Rantau prapat,

Mudahnya persyaratan untuk memiliki  sepeda motor, membuat banyak orang mulai malas berjalan kaki. Masyarakat cenderung lebih menggunakan sepeda motor atau sepeda listrik, baik jarak jauh maupun jarak dekat sekalipun. Meskipun sudah memiliki kendaraan bermotor, mereka yang tinggal di sekitar desa purbabangun , kampung salam dan sekitarnya tetap memilih menggunakan perahu getek untuk menyeberang.

Hal ini dilakukan daripada menaiki jembatan karena jalurnya yang memutar. Meskin terkesan sangat sederhana dan kuno, perahu getek ternyata cukup efektif dalam memangkas waktu perjalanan para penggunanya.

Perahu getek adalah transportasi tradisional yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Ini dapat ditemukan pada daerah yang  memiliki sungai dan danau.

Bentuknya pun mengalami banyak modifikasi, mulai dari terbuat dari lembaran papan kayu sampai sekarang berupa kapal kecil yang diberi motor penggerak. Perahu getek dapat menampung sedikitnya 10 buah sepeda motor dan 20 orang pejalan kaki sekaligus.

Masyarakat masih sangat nyaman menjadikan perahu getek sebagai alternatif perjalanan karena harganya terjangkau. Selain itu dapat menghemat waktu dan tenaga daripada harus memutar untuk mencari posisi jembatan terdekat.

“Saya pilih membayar Rp2.000 naik getek, daripada waktu terbuang 20 menit apabila melewati jembatan, ” kata AGUSTINA NST pengguna getek di wilayah Labuhanabatu,desa Tebing Linggahara,kecamatan Bilah Barat , kamis (27/03/2025).

Dengan menggunakan transportasi lawas perahu getek, seseorang hanya memerlukan waktu 5 menit saja untuk dapat pergi menyeberang. Di titik tertentu sudah terdapat dermaga sederhana sebagai tempat perahu getek bersandar, mudah dijangkau dan siaga 24 jam.

Anda mungkin juga suka...